Berdamailah dengan Diri Sendiri

Sejak sekian lama aku menghindari rumah orang tua sebagai persinggahan utama. Aku pulang, hanya untuk mengambil perbekalan mengikuti sebuah pelatihan. Di mana aku dipertemukan dengan sosok Nita.

Dari kursi belakang, aku melihat seorang perempuan yang berbeda dengan yang lainnya. Aku pikir usianya sebaya denganku, karena dengan pakaiannya yang khas. Tertutup dan elegan.

Tak terpikir untuk berkenalan dengannya atau bahkan mengenalnya lebih jauh. Aku hanya mengaguminya dari kejauhan dan selesai. Selesai sampai hari terakhir pelatihan. Tak ada nama atau apapun yang mesti diingat darinya.

Tapi takdir berkata lain, ternyata kami disatukan dalam satu grup media sosial alumni  pelatihan tersebut. Dan dia lebih aktif dari ekspektasi pertama yang aku pikirkan. Bahkan, rasanya dia lebih mendominasi daripada yang lain. Padahal, yang akhirnya aku tahu usianya di bawah aku.

Aku terlibat projek rutinan yang dibuat bersama, dan baru kontak intens terjadi di antara kami. Padahal aku tak begitu berharap dengan situasi itu. Karena masih trauma dengan kekecewaan yang terjadi berturut-turut.

Kondisi berkata lain, dia yang lebih konservatif pada keputusannya membuatku harus kembali mengalah dengannya. Langkah pendekatan sudah dilakukan, tetapi aku belum benar-benar bisa mengambil keputusan karena tuntutan. Lalu, aku sudahi kembali drama yang sudah terjadi.

Sampai kutahu bahwa dia berada pada kondisi sudah dilamar orang lain. Sedih gak sih? Kalau aku sih enggak, karena pada hubungan bersama Nita aku tak berharap pada kondisi atau sosok Nita pribadi. Aku kehilangan gairah untuk menjawab ejekan teman-teman tentang kata-kata “jomblo”.

Kupingku sudah kebal, tak berusaha untuk melawan dan menganggap itu sebagai lelucon biasa. Aku mencoba mengubah diri. Berfokus mendamaikan diri yang sudah lelah melahap kekecewaan. Menyibukan diri dengan berbagai projek, aktif berkomunitas dan mencoba usaha sendiri.

Tetapi proses pendamaian itu sepertinya butuh waktu, butuh pendukung, butuh ruang. Kesendirian membuatku goyah. Kembali pada keputusan yang salah, karena tak ada petunjuk yang mengarahkan.

Lalu aku kembali bersembunyi, mencoba benar-benar berdamai dengan diri sendiri. Mencari harapan, menentukan masa depan.

Sudahlah, Kecewa itu Hanya Ilusi

Betul sekali, perasaan kecewa itu tidak benar-benar nyata aku rasakan. Tapi rasa itu mengendap. Lukanya tak berdarah tapi sakitnya terasa saat terkena gesekan. Semacam gigi linu, atau bahkan retak tulang kering.

 

Ini terjadi di akhir tahun 2016. Tak ada rencana tentang pertemuan dengan perempuan bernama Tika. Mungkin Tuhan bermaksud memperkenalkan lebih banyak lagi tentang arti kekecewaan. Biar aku lebih kuat dan tak asing lagi tentang itu.

Aku mengenal Tika tak selama mengenal Nur. Tetapi efeknya lebih besar dari sekedar hubungan anak kuliah bermimpi dan saling rindu. Pertemuan yang tak disengaja, bahkan sebagian orang yang tahu menyebutnya tentang tragedi “sendal jepit”.

Seolah tragedi itu pertanda bagaimana akhir pertemuanku dengan Tika. Sejauh yang aku kenal, saat itu Tika menjadi sosok yang bisa mengubah diriku. Ya, Tika menjadi salah satu alasanku untuk berubah dari kekecewaan sebelumnya. Mungkin, itu yang menjadi penyebab aku mengalami ketakutan yang lebih mendalam.

Aku dekat dengan Tika hanya satu bulan. Namun, di ujung bulan Tika merasa ada yang salah tentang kami. Yang mungkin efek keresahan dari dirinya sejak dulu. Dia memutuskan berhijrah dan memintaku untuk tidak saling menghubungi.

Entahlah, apalagi yang harus aku perbuat saat itu. Belum lagi tuntutan orang tua yang berharap tinggi padaku. Sementara, aku belum bisa mengalah atas egoku. Yang aku bisa lakukan adalah memilih untuk “menghilang”.

Aku bersembunyi dari orang-orang, bahkan aku sengaja untuk tidak pulang ke rumah orang tua sampai waktu yang tidak ditentukan. Berminggu-minggu, bahkan sampai berbulan-bulan. Termasuk aku tak berani untuk menghadiri undangan resepsi pernikahan Tika.

Sampai aku tahu bahwa, Tuhan menghadirkan kekecewaan itu hanya untuk memperkenalkan-Nya lebih dekat. Aku lebih sering lalai, mungkin lebih banyak lupa menjumpai-Nya. Sementara Tuhan ingin aku bertemu lebih dekat-Nya.

Sejak saat itu, aku faham bahwa kekecewaan itu hanyalah ilusi. Rasa yang dibuat dari emosi dan harapan yang tidak terwujud, lalu mengendap menjelma jadi sosok kebiadaban. Menjadi syetan berwujud emosi yang menggumpal dari hati.

Lalu, aku rasakan itu ketika mengenal Nita.

Jangan Terlalu Berharap, Nanti Kamu Kecewa

Ini kisahku sekitar 4 tahun yang lalu. Tentang sebuah hubungan antara aku dengan, sebut saja Nur. Seorang perempuan yang saat itu membuatku selalu melayang-layang setiap hari. Kerinduan-kerinduan yang tak berkesudahan m embuatku larut, melupakan dunia. Hehe…

Sejak merasa dekat pada tingkat dua masa kuliah, terhitung sudah lima tahun aku dekat dengannya. Sudah banyak orang yang tahu. Bahkan sudah memperkenalkan kepada orang tua masing-masing. Fiuuhh..

Jika mengingat itu, entah apa yang kurasa saat itu. Kebodohan-kebodohan yang dilakukan dengannya. Besitegang satu sama lain. Lalu, akhirnya aku lagi yang meminta maaf. Haha, sepertinya menjadi stereotip tentang perempuan tak pernah SALAH.

Sejak awal, aku tak berfikir tentang resiko sebuah hubungan. Tak ada yang memberi tahu dan tak ada yang memberi petunjuk. Biar tulisan ini menjadi petunjuk buat orang-orang yang membaca kisah ini.

Tetapi, apa mau di kata. Jalannya harus seperti itu. Perjalan selama lima tahun. Bahkan mungkin 6 tahun, karena prosesi pedekate pun yang memakan waktu satu tahun. Harus berakhir pada sebuah kekecewaan.

Kecewa itu timbul dari sebuah pengharapan atas apa yang kita inginkan. Ya, aku sangat berharap dia bisa berujung indah. Duduk berdua di pelaminan, lalu saling membantu berjuang bersama melebarkan layar bahtera rumah tangga bersamanya. Tapi, ternyata TIDAK.

Di akhir tahun 2015, kita memutuskan untuk saling melepas. Mengakhiri hubungan yang berdarah-darah. “Jika tahu akhirnya begini, kenapa gak pisah dari dulu? Kenapa harus repot-repot saling mempertahankan hubungan?”. Eh, atau cuma aku saja yang berusaha mempertahankan hubungan? Entahlah, mungkun dia juga berpikiran sama.

Ya, itu kekecewaanku yang pertama. Semua keegoisan diri muncul dan berujung pada menyalahkan orang lain. Terutama yang berkontribusi pada keputusan akhir yang harus kami ambil. Keluarga yang tak kunjung memberi izin, atau mungkin menolak dia?

Dan menjadi alasan kekecewaanku selanjutnya. Kekecewaan itu membekas hingga sekarang, berdampak pada keputusan-keputusan apa yang akhirnya harus aku ambil. Aku menjadi lebih egois, tak mau mendengar, dan benar-benar tak mau berada di ujung jari orang lain. Termasuk orang tua.

Karena, aku takut akan kembali kecewa ketika ujung jari orang lain tak sesuai dengan harapanku sejak awal. Tak ada damai, yang ada hanya menghindar dari orang-orang yang berpotensi menjadi pengendali.

Termasuk ketika aku memutuskan untuk resign dari pekerjaan menjelang pertengahan tahun 2016. Yang awalnya, menjadi alasan menunjukkan rasa tanggungjawab kesungguhanku untuk menikahi Nur. Meskipun dicampuri dengan alasan-alasan pembenaran untuk tidak menampakkan kekecewaan.

Yang akhirnya, aku menyadari bahwa terlalu berharap pada sesuatu atau bahkan seseorang. Itu hanya akan berakhir kecewa jika semua tak sesuai dengan harapan. Rasa sakit akan menghantui pikiran dan berujung pada keputusan-keputusan yang terkadang salah.

Ade Bilang Sih…

Ade bilang sih….

Merupakan blog pribadi dari Ade Abdurrohman Aditya.

Yang saat ini berkegiatan di beberapa organisasi filantropi bisnis dan pemberdayaan UMKM. Yaitu, Jaringan Wirausaha Muda Sukabumi (JWMS), Komunitas Bukalapak Sukabumi dan Serikat Saudagar Nusantara Daerah Sukabumi.

Blog ini hanya sekedar catatan keseharian, curhat dan kumpulan artikel bisnis yang semoga bisa menambah referensi bacaan teman-teman.

 

Hatur nuhun…

Wassalaamu’alaikum…

___________________________
Sosial Media:

Facebook : di sini.

Instagram : di sini.

WhatsApp : di sini.