STOP!

 

STOP!
PERHATIKAN KEANEHAN PADA FOTO DI BAWAH INI!


.
.
.
.
.
.
.
Ya, tidak ada yang aneh memang…
Namun, ada sebuah komentar yang membuat saya bertanya pada diri sendiri, mengapa saya tersenyum seperti itu?

Komentarnya hanya bilang, “wa, seurina terlihat bahagia dan tanpa beban.”

Saya hanya berfikir, oh mungkin saya waktu itu bahagia ketika bertemu dengan banyak guru agama; sepeti ustadz Salim A. Fillah dan ustadz Hanan Attaki serta guru-guru lainnya, termasuk yang ada di di samping saya itu.

Lalu, saya berpikir kembali. Apa ya sebenarnya waktu itu bisa membuat saya benar-benar bahagia dan tanpa beban? Dengan alasan yang disebutkan di atas. Ah, rasanya Saya belum benar-benar meyakini itu jawabannya.

Tetapi, sejatinya apa yang membuat kita bahagia? Selain merasakan nikmatnya kerinduan dan merasakan Allah selalu hadir membersamai kita. Di setiap kondisi dalam hidup kita. Belum lagi, kerinduan yang benar-benar nyata terhadap sosok Rasulullah. Yang di akhir hidupnya rela berkorban untuk umatnya dalam merasakan perihnya sakaratul maut.

Silahkan sahabat rasakan. Betapa Allah itu dekat, segala pengawasannya tak luput atas gerak gerik kita. Seketika membuat diri kita semakin kerdil, tak ada apa-apanya. Rasakan kerinduan kepada-Nya. Rasakan nikmat memeluk-Nya. Lebih erat, lebih rindu. Dan tak ingin melepas pelukan itu. Semakin dalam, semakin erat pelukannya. Lalu, rasakan nikmat itu sejenak.
.
.
.
.
.
Dalam sesi sebuah pelatihan shalat khusyuk, bisa jadi hal itu efektif dan hanya bertahan beberapa waktu. Tapi, apakah itu akan bertahan di setiap waktu kita? Bisa saja dengan riyadhah tidak terputus-putus selama 40 hari. Tetapi terkadang di tengah-tengah kita suka “melehoy”, lalu terjerumus ke dosa lagi. Lalu perlahan akan mengikis rasa rindu itu kembali.

Sejatinya, apa yang membuat kita berhenti gembira dan merasakan sesak beban? Bisa jadi kita belum merasakan keyakinan atas perlindungan Allah. Yang Maha Menjaga. Maha Memberi Perlindungan.

Doa saya untuk sahabat. Semoga dapat merasakan nikmatnya kerinduan perjumpaan bersama Allah. Dan menyampaikan kerinduan terhadap Rasulullah.

Wallahu’alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *