Menjadi Perenungan

Awalnya, saya hanya penasaran karena melihat cuplikan video film San Andreas di timeline Instagram. Cuplikannya sapuan ombak besar menghancurkan banyak bangunan.

Siapa yang tidak tahu aktor kekar dengan sebutan “the rock”, kala dia jadi pemain gulat WWE. Sejenis olahraga tarung bebas dengan teknik-teknik akrobatik yang dibuat menarik. Betul, tokoh utamanya Dwayne Johnson.

Saya tidak akan menceritakan detail filmnya. Hanya bermaksud mengambil hikmah dari isinya.

Film San Andreas itu berkisah tentang tragedi, yaitu gempa dengan kekuatan besar. Sehingga, memporakporandakan gedung-gedung tinggi, membelah tanah, bahkan menimbulkan tsunami yang begitu dahsyatnya.

Bahkan, nyata sekali di dekat kita beberapa waktu lalu. Di Lombok dan Sulawesi Tengah. Kita juga bisa melihat video amatir yang mempertontonkan kejadian di kedua tempat tersebut. Ngeri. Betul-betul ngeri.

Balik lagi ke film San Andreas.
Namanya film, pasti ada sesi drama, plot dan imajinasi yang membuat adegan-adegan itu terasa nyata. Dan, harapannya dirasakan penonton.

Nah, kalau saya terilhami dari adegan itu. Lalu direlasikan dengan kejadian akhir-akhir ini. Timbullah pertanyaan, bagaimana kejadian itu nyata-nyata terjadi dan dirasakan oleh kita?

Guncangan besar menimpa kita, mungkin saja sebesar yang terjadi seperti di film. Hingga tanah terbelah, gedung beruntuhan, air laut meluap. Apakah kita akan benar-benar ingat saudara, orang tua, istri atau suami ketika guncangan besar itu terjadi?

Lalu, saya merenungi. Sebagai orang yang percaya pada hari kiamat. Apakah yang sudah kita persiapkan? Apakah sudah benar-benar cukup untuk kita sampaikan pada hari penghitungan?

Maka dari itu, Saya memohon maaf kepada sahabat-sahabat yang merasa terdzolimi oleh kejahilan diri saya.
Saya doakan semoga Allah memberikan limpahan ampunanNya kepada sahabat-sahabat.

Saya juga mendoakan sahabat-sahabat semoga Allah mudahkan, lancarkan dan kokohkan dirinya masing-masing yang sedang mempersiapkan diri, memperbaiki diri dan menjemput Ridha Allah.

Wallahu’alam
AlFaqir…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *