Sudahlah, Kecewa itu Hanya Ilusi

Betul sekali, perasaan kecewa itu tidak benar-benar nyata aku rasakan. Tapi rasa itu mengendap. Lukanya tak berdarah tapi sakitnya terasa saat terkena gesekan. Semacam gigi linu, atau bahkan retak tulang kering.

 

Ini terjadi di akhir tahun 2016. Tak ada rencana tentang pertemuan dengan perempuan bernama Tika. Mungkin Tuhan bermaksud memperkenalkan lebih banyak lagi tentang arti kekecewaan. Biar aku lebih kuat dan tak asing lagi tentang itu.

Aku mengenal Tika tak selama mengenal Nur. Tetapi efeknya lebih besar dari sekedar hubungan anak kuliah bermimpi dan saling rindu. Pertemuan yang tak disengaja, bahkan sebagian orang yang tahu menyebutnya tentang tragedi “sendal jepit”.

Seolah tragedi itu pertanda bagaimana akhir pertemuanku dengan Tika. Sejauh yang aku kenal, saat itu Tika menjadi sosok yang bisa mengubah diriku. Ya, Tika menjadi salah satu alasanku untuk berubah dari kekecewaan sebelumnya. Mungkin, itu yang menjadi penyebab aku mengalami ketakutan yang lebih mendalam.

Aku dekat dengan Tika hanya satu bulan. Namun, di ujung bulan Tika merasa ada yang salah tentang kami. Yang mungkin efek keresahan dari dirinya sejak dulu. Dia memutuskan berhijrah dan memintaku untuk tidak saling menghubungi.

Entahlah, apalagi yang harus aku perbuat saat itu. Belum lagi tuntutan orang tua yang berharap tinggi padaku. Sementara, aku belum bisa mengalah atas egoku. Yang aku bisa lakukan adalah memilih untuk “menghilang”.

Aku bersembunyi dari orang-orang, bahkan aku sengaja untuk tidak pulang ke rumah orang tua sampai waktu yang tidak ditentukan. Berminggu-minggu, bahkan sampai berbulan-bulan. Termasuk aku tak berani untuk menghadiri undangan resepsi pernikahan Tika.

Sampai aku tahu bahwa, Tuhan menghadirkan kekecewaan itu hanya untuk memperkenalkan-Nya lebih dekat. Aku lebih sering lalai, mungkin lebih banyak lupa menjumpai-Nya. Sementara Tuhan ingin aku bertemu lebih dekat-Nya.

Sejak saat itu, aku faham bahwa kekecewaan itu hanyalah ilusi. Rasa yang dibuat dari emosi dan harapan yang tidak terwujud, lalu mengendap menjelma jadi sosok kebiadaban. Menjadi syetan berwujud emosi yang menggumpal dari hati.

Lalu, aku rasakan itu ketika mengenal Nita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *