Jangan Terlalu Berharap, Nanti Kamu Kecewa

Ini kisahku sekitar 4 tahun yang lalu. Tentang sebuah hubungan antara aku dengan, sebut saja Nur. Seorang perempuan yang saat itu membuatku selalu melayang-layang setiap hari. Kerinduan-kerinduan yang tak berkesudahan m embuatku larut, melupakan dunia. Hehe…

Sejak merasa dekat pada tingkat dua masa kuliah, terhitung sudah lima tahun aku dekat dengannya. Sudah banyak orang yang tahu. Bahkan sudah memperkenalkan kepada orang tua masing-masing. Fiuuhh..

Jika mengingat itu, entah apa yang kurasa saat itu. Kebodohan-kebodohan yang dilakukan dengannya. Besitegang satu sama lain. Lalu, akhirnya aku lagi yang meminta maaf. Haha, sepertinya menjadi stereotip tentang perempuan tak pernah SALAH.

Sejak awal, aku tak berfikir tentang resiko sebuah hubungan. Tak ada yang memberi tahu dan tak ada yang memberi petunjuk. Biar tulisan ini menjadi petunjuk buat orang-orang yang membaca kisah ini.

Tetapi, apa mau di kata. Jalannya harus seperti itu. Perjalan selama lima tahun. Bahkan mungkin 6 tahun, karena prosesi pedekate pun yang memakan waktu satu tahun. Harus berakhir pada sebuah kekecewaan.

Kecewa itu timbul dari sebuah pengharapan atas apa yang kita inginkan. Ya, aku sangat berharap dia bisa berujung indah. Duduk berdua di pelaminan, lalu saling membantu berjuang bersama melebarkan layar bahtera rumah tangga bersamanya. Tapi, ternyata TIDAK.

Di akhir tahun 2015, kita memutuskan untuk saling melepas. Mengakhiri hubungan yang berdarah-darah. “Jika tahu akhirnya begini, kenapa gak pisah dari dulu? Kenapa harus repot-repot saling mempertahankan hubungan?”. Eh, atau cuma aku saja yang berusaha mempertahankan hubungan? Entahlah, mungkun dia juga berpikiran sama.

Ya, itu kekecewaanku yang pertama. Semua keegoisan diri muncul dan berujung pada menyalahkan orang lain. Terutama yang berkontribusi pada keputusan akhir yang harus kami ambil. Keluarga yang tak kunjung memberi izin, atau mungkin menolak dia?

Dan menjadi alasan kekecewaanku selanjutnya. Kekecewaan itu membekas hingga sekarang, berdampak pada keputusan-keputusan apa yang akhirnya harus aku ambil. Aku menjadi lebih egois, tak mau mendengar, dan benar-benar tak mau berada di ujung jari orang lain. Termasuk orang tua.

Karena, aku takut akan kembali kecewa ketika ujung jari orang lain tak sesuai dengan harapanku sejak awal. Tak ada damai, yang ada hanya menghindar dari orang-orang yang berpotensi menjadi pengendali.

Termasuk ketika aku memutuskan untuk resign dari pekerjaan menjelang pertengahan tahun 2016. Yang awalnya, menjadi alasan menunjukkan rasa tanggungjawab kesungguhanku untuk menikahi Nur. Meskipun dicampuri dengan alasan-alasan pembenaran untuk tidak menampakkan kekecewaan.

Yang akhirnya, aku menyadari bahwa terlalu berharap pada sesuatu atau bahkan seseorang. Itu hanya akan berakhir kecewa jika semua tak sesuai dengan harapan. Rasa sakit akan menghantui pikiran dan berujung pada keputusan-keputusan yang terkadang salah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *